kamis malam,..
mungkin ini terkesan sebuah drama kehidupan yang biasa, tetapi tidak dengan penulis,.. dari sebuah perjalanan yang biasa-biasa saja,.. yach,.. perjalanan mudik lebaran. menghadapi ‘pulang kampung’ yang menjadi tradisi bagi sebagian orang. menjumpai sanak famili di kampung hingga reuni ala anak muda yang gemar ‘ngumpul’.
berawal dari ‘ndak ada’ cukup dana mudik,.. pergilah penulis menjumpai sahabatnya, prendzz ada rencana mudik bareng dengan kreta,..? dari obrolan singkat itu, disepakati mudik dengan kreta ‘biasa’, menuju kampung halaman. berjalannya hari, dan mudik pun tiba,.. sepanjang jalan terasa hangat, meski berdesak, tetapi tetap ada kebersamaan dan kedamaian. bersama berjalan, dikenal-lah seorang tetangga dekat.
kamis malam itu, bak malam yang sejuk yang mencerahkan. berawal dari perasaan bete, bertemulah dengan kawan lama, hoi,.. kenapa naek kreta,.. engga by plane ajeee? singkat cerita,.. dia sedang berhajat besar,.. dia rela berdesak-desakan demi menghemat dana. padahal yang 1 sam nyampe pun bisa lo,.. tak disangka. hajat besar seorang kawan adalah menghantarkan beliau kedua orang tua ke tanah suci,..
Maha Suci Engkau,..
Puji syukur, sementara kalangan bertinggi hati mecela mereka yang berkendara seadanya,.. sahabat yang satu ini ihlas dihujat, demi sebuah niat mulia,..
Kebanyakan kaum bermental kapitalis bersikap hedonis dengan menghabiskan harta semalam demi sebuah kata ‘prestice’,.. engga kuat gengsi ala orang kaya baru,.. duh duh,… berangkat dari sini,.. segolongan orang dengan mengatas namakan ‘mampu’ lebih memilih mencela yang lain ketimbang memberikan kelebihannya untuk berderma,..
bukan hanya itu ‘ngumpul’ bareng ala buka bersama hingga tarawih bersama, dijadikan mereka sebagai sarana unjuk kelebihan,.. dan bukan lagi memandang esensi dari acara mejalin silarurahmi ini,.. hahaha,.. dan ini ‘biasa’ di kota yang mendedikasikan diri sebagai metropolitan surga jahilia ini,..
kawan terimakasih atas sharingnya,..
……………………..
seminggu berasa sehari,.. hahaha,.. namanya liburan,.. saudara sekampung senegara pun belum semua terhampiri silaturahminya,.. dari kamis itupun kembali datang menjemput pulang ke aktivitas sediakala,.. sepanjang perjalanan kereta ‘biasa’, ada banyak hikmah ditemukan,..
berdo’a menemukan hikmahnya, bertemulah dengan kawan seperjuangan,.. dengan cita mulia menjadi seorang pengajar, seorang muda menapaki dunia bankir yang berkiblat pada kapitalisme. segalanya diukur dengan uang,.. tak pelak menggoreskan luka lama,.. fulan berkata, hedonisme ada dilingkungannya, dia memproteksi diri dengan mengambil langkah realistik, menginvestasikan dananya dengan membeli rumah,.. ketakutan ala ‘metropolitan’ yang dekat dengan dunia malam, gemerlap kota tanpa kata mati, dan royal akan komitmen terhadap hamburkan uang. lagi2 untuk sesuatu yang maya yakni ‘gensi’, sebuah strata hanya dalam kata,..
niatnya untuk menjadi pengajar tetep kekeh hingga kini, meski goda-an materi surga kapitalisme saat ini dia rasakan.. berat perjuangan kawanku ini, tetapi DIA pasti mendengar nuraninya yang masih merintih,..
semoga berhasil kawan,..
jakarta we’re coming,..
SERI : ’selamat idul fitri’
..mohon maaf tulus lahir batin,..