Zona “Degradasi” Budaya

.. Opinee …

Saat2 genting sepertinya bukan lagi milik para sepak bola-ers, ataupun klub yang didukungnya, ini terlihat dengan menurunnya kualitas sebagian dari warga kita. Lihatlah pada jam sekolah, banyak siswa yang “meluangkan waktu” ber jalan2,.. engga mikir mereka udah ngabisin waktu, tenaga dan uang orang tua.. ga tau mereka, kalo mbah2nya dulu atau rama-biyunge (baca:bapak-ibunya) dulu bersusah payah bersekolah, harus mengayuh sepeda 10 sd 15 km (waduh skalian olahraga tuh) belom lagi habis pulang sekolah mereka udah harus ngebantu ortunya, ada yang jualan sampai bertani di sawah.

Kemunduran pemikiran atau sosiokultural remaja ya? Klo kemunduran yang pertama kaya’nya engga dech, nyatanya sekolah “overload” siswa? (atau Cuma ikut2an skolah, waduhhh!!)

Yang jelas kemandirian udah jadi barang langka. Bukan berarti harus ikut menanggung beban keluarga, atau harus ikut bekerja keras atau apalah,.. tetapi spirit untuk bekerja keras bner2 sulit ditemui sekarang.

Ini baru dari satu titik! Perjelas lensa kacamata kanca2, banyak sekali bermunculan anak band. Bagus ! pertanda kreatifitas dan aktivitas mereka positif dan maju untuk sebuah kegiatan. Dan ini diimbangi dengan “sedikit” nya anak2 “gendingan” tau MUSIK ORIGINAL lainnya dari sejagat Nusantara. Jika berorientasi “musik cerdas”, gending, nyanyian jawa dan musik asli indonesia itu “supersulit”dan bukan hal yang mudah untuk menaklukannya. Dan nyatanya? (gada yang mo blajar musik ini)

Bnar’kah ini gejala mundurnya “otak” remaja? Atau sebuah pertunjukan “anti” tantangan?

Entahlah

Dari 2 titik ini saja sudah terlihat, zona kemuduran sudah tampak,.. mungkinkah ini memperlihatkan keikhlasan atas “Penjajahan Budaya” sekaligus kepasrahan atas “Pengambilan Kekayaan Intelektual Bangsa” oleh bangsa lain.

Mirisssssssssss Diambil ga boleh, tapi peduli aja engga !! Gimana sih?

Engga usah menunggu waktu, cobalah untuk peduli dengan budaya timur, budaya ASLI kita sebagai Bangsa Besar.

Cinta Budaya Indonesia

Beri tanggapan

Your response: